Makalah Anggar Kondisi Fisik
Makalah Anggar
“Kondisi Fisik”
Disusun Oleh :
Afdol Febriansyah (14060474080)
Universitas
Negeri Surabaya
Fakultas Ilmu
Keolahragaan
Jurusan
Pendidikan Kepelatihan Olahraga
2015
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
ini dimana makalah ini disusun untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Olahraga
Pilihan (OrPil) Anggar
Pada
penulisan makalah ini penulis mengalami berbagai kendala, tapi syukur
alhamdulillah berkat keinginan untuk memperoleh nilai yang maksimal pada mata
kuliah ini penulis dapat menyelesaikannya.
Isi
dari makalah ini adalah mengenai kondisi fisik olahraga anggar serta hal
lainnya yang bersangkutan dengan itu. Isi dari materi yang terdapat di dalam
makalah ini bersumber dari pemikiran saya sendiri dan ada beberapa isi materi yang
bersumber dari artikel maupun jurnal yang saya temukan di internet. Saya
menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu saya
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun demi
kelengkapan dan kebenaran isi dari makalah ini. Harapan saya semoga pembuatan
makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca
Terimakasih.
Surabaya, Desember
2015
( Afdol Febriansah )
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar . . . . . . . . . i
DAFTAR
ISI . . . . . . . . . . ii
BAB I . . . . . . . . . . . 1
PENDAHULUAN . . . . . . . . 1
1.1 Latar belakang . . . . . . . 1
1.2
Rumusan Masalah . . . . . . 3
1.3
Tujuan Penulisan . . . . . . 4
1.4
Manfaat Penulisan . . . . . . 4
BAB II . . . . . . . . . . 5
PEMBAHASAN . . . . . . . . 5
2.1 Hakikat Anggar . . . . . . . 5
2.2 Hakikat Kondisi Fisik . . . . . . 14
2.3 Minimnya prestasi
peAnggar Indonesia . . . 19
2.4 Memasyarakatkan olahraga Anggar . . . . 20
BAB III . . . . . . . . . . 21
PENUTUP . . . . . . . . . 21
3.1
Kesimpulan . . . . . . . 21
3.2
Saran . . . . . . . . 21
DAFTAR
PUSTAKA . . . . . . . . 22
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Prestasi
permainan Anggar di negara kita Indonesia belum terlalu menggembirakan, jika
dibandingkan dengan negara lain seperti China, Jepang dan lain-lain. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor yaitu permainan Anggar belum memasyarakat,
sarana prasarana, peralatan Anggar yang digunakan masih belum memadai dan masih kurangnya club Anggar.
Bertitik tolak dari hal itu maka PB IKASI melakukan beberapa program untuk
mendorong dan meningkatkan prestasi permainan Anggar dengan mengadakan try out
ke negara-negara lain untuk melatih atau menatar para pelatih-pelatih Anggar di
Indonesia.
Ciri
khas kegiatan olahraga adalah peragaan keterampilan fisik, dari hal tersebut
dapat diartikan bahwa keterampilan fisik adalah salah satu hal yang harus
ditingkatkan untuk mencapai kemenangan atau tingkat kemampuan terbaik, sebagai
atlet Anggar berusaha bagaimana supaya olahraga Anggar dapat diminati oleh
masyarakat luas seperti olahraga lainnya,
Menurut
Harsono (1988) dalam Amahoru (2002:2) “Prestasi ditentukan oleh empat aspek
penting yaitu fisik, teknik, taktik dan mental, disamping itu faktor sarana dan
prasarana juga sangat mendukung peningkatan suatu prestasi”. Untuk lebih
meningkatkan prestasi Anggar, maka hal utama yang perlu diperhatikan yaitu
peningkatan dan penguasaan teknik dasar baik untuk semua jenis senjata dalam
permainan Anggar yaitu: senjata floret, degen dan sabel.
Menurut
Nur dan Tato (1995:8) bahwa: Teknik dasar olahraga Anggar terdiri dari langkah
maju, langkah mundur, lompat kebelakang, dan serangan. Disamping teknik dasar,
dikenal juga tangkisan yang terdiri dari tangkisan satu, dua, tiga, empat,
lima, enam, tujuh, delapan. Pelaksanaan gerakan pada beberapa teknik dalam
permainan Anggar menuntut agar tusukan/serangan yang dilancarkan tepat pada
sasaran dan dalam waktu yang singkat membutuhkan unsur kondisi fisik yang baik. Namun dalam kenyataannya sebagian besar
atlet masih kurang memahami kontribusi unsur kondisi fisik dalam melakukan
serangan pada permainan Anggar.
Berdasarkan
uraian di atas, maka untuk meningkatkan prestasi Anggar usaha yang perlu
dilakukan adalah bagaimana semua hal tersebut di atas dapat dimiliki oleh
atlet, khususnya kemampuan serangan yang menuntut agar tusukan/serangan yang
dilancarkan tepat pada sasaran dan dalam waktu singkat dengan tidak mengabaikan
kemampuan fisik. Ketepatan tusukan ini sangat menentukan kemenangan dalam
pertandingan. Apalagi dalam senjata degen yang sasarannya adalah seluruh tubuh
dan tidak diberlakukannya hak menyerang, jadi lawanpun bisa mendapatkan poin
secara bersamaan ketika kita melakukan serangan. Kenyataan yang terjadi
dilapangan adalah seorang pemain Anggar terkadang melakukan tusukan tidak tepat
pada sasaran yang sah, sehingga serangan yang dilakukan tidak menghasilkan
sebuah poin, malahan situasi ini dijadikan sebagai momen oleh lawan untuk
mendapatkan poin pada dirinya.
Dalam
permainan Anggar senjata degen, sasarannya yang sah adalah seluruh tubuh dan
yang melekat padanya. Hal ini berarti bahwa seorang pemain Anggar senjata degen
dituntut bisa mendapatkan poin setiap kali ia melakukan serangan. Setidaknya
setiap kali melakukan serangan pemain sama-sama mendapatkan poin akibat dari
tusukan rangkap (coup double). Hal inilah yang harus dijadikan sebagai bahan
evaluasi oleh atlet dan pelatih untuk terus mengasah ketepatan tusukan dalam permainan Anggar senjata degen,
sehingga hasil diharapkan dalam pertandingan yang akan datang seorang atlet
dapat melakukan tusukan tepat pada sasaran yang diinginkannya. Dengan demikian
serangan yang dilakukan dalam permainan Anggar senjata degen tidak sia-sia.
Masih banyak atlet dan pelatih masih kurang
menerapkan latihan-latihan yang mendukung ketepatan tusukan seperti latihan untuk melatih kekuatan
pegangan, latihan untuk melatih keseimbangan, dan latihan untuk melatih daya ledak otot tungkai.
Padahal unsur-unsur ini dapat mempengaruhi ketepatan tusukan dalam permainan Anggar
senjata degen. Masih minimnya pengetahuan tentang pentingnya melatih atau
mengaplikasikan latihan tersebut membuat atlet sukar unutk mendapatkan
ketepatan tusukan yang maksimal, baik dalam latihan maupun saat bertanding.
Sehingga hal ini perlu dikaji lebih jauh untuk dapat memberikan pengetahuan dan
pemahaman pada atlet dan pelatih tentang latihan-latihan yang perlu dilakukan
untuk mencapai ketepatan tusukan yang maksimal dalam permainan Anggar senjata
degen.
Permainan
Anggar merupakan serangkaian gerakan dasar yang dilakukan melibatkan aktivitas
fisik, seperti gerakan dasar menyerang, menangkis, menghindar, ataupun mengelak
semuanya memiliki unsur kekuatan pegangan, keseimbangan, dan daya ledak tungkai
sehingga diharapkan para atlet Anggar memiliki unsur-unsur tersebut. Unsur
kekuatan pegangan merupakan unsur yang penting dalam kemampuan memegang senjata
juga untuk melakukan gerakan-gerakan cepat dalam waktu yang singkat dengan
kekuatan yang maksimal, sehingga dapat menunjang teknik dan kecepatan guna
melakukan serangan, gerakan menangkis dan secara tiba-tiba kembali melakukan
serangan.
Kekuatan
pegangan juga berguna untuk mempermudah mempelajari teknik-teknik dasar
permainan Anggar, mencegah terjadinya cedera dan memantapkan sikap percaya
diri. Kekuatan pada pegangan digunakan pada saat memukul senjata lawan,
menangkis serta melakukan gerakan tangan yang dibutuhkan dalam permainan Anggar,
karena hanya dengan kekuatan pegangan pemain dapat mempermainkan senjata dengan
efektif, apabila pegangan tidak kuat, maka kemungkinan untuk mempertahankan
sasaran senjata sangatlah sulit, lawan juga akan lebih mudah untuk memukul
senjata kita sehingga membuat sasaran kita jadi terbuka dan akhirnya lawan
dengan gampang melakukan tusukan. Kekuatan pegangan dalam permainan Anggar
senjata degen juga berguna untuk memelihara tekanan yang kuat pada tangan saat
melakukan tusukan, tangkisan atau memukul senjata.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar
belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
Apa
penyebab kurangnya pretasi atlet Anggar Indonesia di kancah Internasional?
Bagaimana
cara memasyarakatkan olahraga Anggar?
Bagaimana
cara meningkatkan prestasi olahraga Anggar?
1.3 Tujuan
Penulisan
Berdasarkan
rumusan masalah di atas, tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
Untuk
mengetahui apa itu olahraga Anggar
Untuk
mengetahui apa itu kondisi fisik dalam anggar
Untuk
mengetahui penyebab minimnya prestasi Anggar Indonesia di kancah Internasional
Untuk
mengetahui cara memasyarakatkan olahraga Anggar
1.4 Manfaat Penulisan
Hasil
dari penulisan makalah ini dapat berguna untuk membangun kesadaran seluruh
elemen masyarakat agar dapat membantu peningkatan mutu olahraga Anggar serta memberikan
sedikit pengetahuan mengenai olahraga Anggar dan kondisi fisik olahraga Anggar
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Hakikat Anggar
Anggar merupakan cabang olahraga yang dapat dilakukan oleh
lakilaki maupun perempuan. Pada zaman purbakala sebelum ada senjata modern,
setiap bangsa sudah beranggar untuk membela diri dengan menangkis ataupun
menyerang. Yang dipergunakan adalah barang apapun juga, baik dari kayu maupun
dari besi untuk menangkis bila mendapat serangan (Faidillah Kurniawan 2010:1) Melihat
dari sejarahnya, anggar ini menjadi aktivitas di kalangan ningrat yang ada di
kerajaan. Untuk memperlihatkan keperkasaan seseorang, anggar sering digunakan untuk
menjadi instrumen performa individu sebagai yang terbaik (Amung Ma’mun,
2003:7).
Sebagaimana diungkapkan oleh Mukhamad khamdan (2011: 2) Anggar
adalah seni budaya olahraga ketangkasan dengan senjata yang menekankan pada
teknik kemampuan seperti memotong, menusuk atau menangkis senjata lawan dengan
menggunakan keterampilan dalam
memanfaatkan
kelincahan tangan. Dalam artian lebih spesifik, anggar adalah satu satu cabang
olahraga yang diajarkan di sekolah-sekolah Eropa pada masa lalu dalam melatih
keahlian dalam menggunakan senjata tajam yang akhirnya menjadi salah satu
olahraga resmi di Olimpiade. Etimologi kata “anggar” berasal dari Bahasa
Perancis “en garde”, bunyinya dalam bahasa Indonesia “ang-gar” yang
berarti “bersiap”. Kata “en garde” digunakan sebelum permainan
anggar dimulai, untuk member perintah“bersiap” kepada pemain.
Menurut Tomoliyus dan Faidillah Kurniawan (2007:11) dalam permainan
anggar ada tiga (3) jenis senjata anggar, yaitu: Floret (FOIL), Degen
(EPEE), dan Sabel (Sabre). Kesemua jenis senjata tersebut memiliki
karakteristik pedang yang berbeda dan karakteristik peraturan
yang
berbeda pula.

a.
Jenis-jenis Senjata Anggar
1) Senjata
Floret (FOIL)
Floret adalah jenis senjata khusus untuk menusuk dengan bidang perkenaan
hanya pada badan bagian atas terutama hanya pada bagian badan (berbentuk
rompi). Pada jenis senjata ini khusus bidang sasaran, pemain wajib menggunakan metallic
jacket selain baju anggar biasa. Senjata floret merupakan jenis senjata
anggar yang paling ringan diantara pedang anggar lainnya. Pedang floret dapat
dikenali dengan ciri pada daun pedang yang cenderung berbentuk menyerupai
persegi empat dan kecil dengan pelindung tangan pada bagian pangkal pedang di
dekat grip atau pegangan senjata yang berbentuk mangkok (kom) cenderung
sangat kecil.
2) Senjata
Degen (EPEE)
Degen/Epee adalah merupakan salah satu jenis senjata anggar
yang dipakai khusus untuk menusuk. Bidang perkenaan pada senjata ini adalah
pada seluruh bagian badan, yaitu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Jenis
pedang ini adalah pedang dengan perlengkapan pertandingan paling minim, karena
tidak mempergunakan metallic jacket sebagaimana pada kedua pedang
anggar lainnya. Pada senjata degen cukup menggunakan pakaian standar anggar
yang berwarna
putih-putih.
Pada senjata degen dapat dikenali dengan ciri pada daun pedang yang relatif
besar berbentuk huruf V dengan pelindung tangan (kom) pada senjata ini
bundarannya jauh lebih besar daripada senjata floret.
3) Senjata
Sabel (Sabre)
Sabel adalah jenis pedang anggar yang berasal dari pedang kavaleri.
Berbeda dengan Degen dan floret, pada senjata sabel dapat digunakan dengan
memukul/memarang dan juga menusuk. Bidang perkenaan pada senjata sabel adalah
pada seluruh bagian badan di atas pinggang, yaitu dari pinggang sampai ujung
kepala dan tangan. Pada senjata sabel ini merupakan jenis senjata anggar yang
paling banyak menggunakan alat pertandingan. Selain menggunakan metallic jacket,
pada jenis senjata ini juga menggunakan masker electric dan sarung
tangan electric. Pada senjata ini dapat dikenali dengan
melihat/memadukan senjata model kavaleri yang sering digunakan oleh para
Tentara/militer, dengan daun pedang berbentuk seperti huruf V dengan sisi bawah
pedang sedikit meruncing. Pada senjata ini memiliki pelindung tangan yang juga
relatif besar seperti senjata degen, tetapi bentuknya melingkar ke
pegangan/grip pegangan senjata guna melindungi tangan dari senjata lawan.

b.
Perlengkapan Pertandingan Anggar
1) Landasan
Anggar (Loper)
Landasan/lapangan permainan anggar disebut juga sebagai loper/piste.
Landasan anggar ini harus terletak pada suatu permukaan yang datar/rata.
Landasan tidak boleh memberikan keuntungan atau kerugian bagi salah satu
diantara pemain anggar yang bersangkutan, terutama sekali yang berhubungan
dengan kemiringan dan cahaya penerangan. Loper ini terbuat dari bahan
karet terbal/terpal.

a)
Luas/Lebar Lapangan Anggar
Lapangan anggar dibatasi karena sesuai dengan karakteristik kecabangan
pada anggar itu sendiri, yaitu perang/combat berhadapan. yang berukuran 2 x 14
meter guna membatasi ruang pertandingan. Terutama pada penggunaan alat listrik,
maka loper dilapisi pula dengan bahan yang sesuai. Perincian landasan anggar adalah,
lebar landasan adalah dari 1.20m hingga 2.00m, dengan panjang landasan 14.00m.
b) Garis
Batas Landasan Pertandingan Anggar (Loper)
Dari semua luas ukuran landasan anggar dipecah menjadi beberapa
titik/bagian, dan pada setiap titik/bagian terdapat tujuan masing-masing.
c) Garis
Batas Bersedia
Garis batas bersedia adalah garis dimana tempat kedua pemain/peanggar
berdiri dalam posisi kuda-kuda anggar sambal menunggu aba-aba dari wasit untuk
melakukan pertarungan. Kedua garis bersedia berjarak masing-masing 2 m dari posisi
peanggar bersiap.
d) Garis
Batas Perang/Duel
Garis batas perang/duel adalah garis dimana peanggar boleh melakukan
pertarungan tanpa boleh melewati garis belakang yang telah ditentukan atau
garis lebar laangan yang telah ditentukan pula. Garis batas perang/duel ini
berjarak sepanjang 14 m (termasuk garis
batas
peringatan).
e) Garis
Batas Peringatan
Garis batas peringatan adalah garis dimana peanggar harus berhati-hati,
karena garis tersebut merupakan garis dimana pertanda bahwa landasan anggar
akan habis dan peanggar tidak boleh melewati garis tersebut. Garis batas
peringatan tersebut adalah : a.) Garis batas peringatan untuk jenis senjata
floret 1m, b.) Garis batas peringatan untuk semua jenis senjata 1m, c.) Garis
batas peringatan untuk degen dan floret 1m.
f) Garis
Batas Mati (End OFF)
Garis batas mati adalah garis dimana landasan permainan telah habis
dan peanggar tidak boleh melakukan pertarungan pada derah tersebut. Apabila
peanggar melewati garis tersebut maka ia akan mendapatkan peringatan dari wasit.
Garis batas mati ini berjarak 1,5m – 2.0m dibelakang garis batas peringatan
untuk semua senjata.
2) Rolling
dan Recording
Dalam permainan anggar menggunakan alat-alat listrik. Pada setiap
pemain dipasangi kabel penghubung dari senjata lewat badan, 15 kemudian
disambungkan ke satu alat yang disebut rolling. Untuk mengetahui keadaan
peralatan permainan anggar itu dapat diketahui layak atau tidak dan juga untuk
dapat mengetahui tusukan atau parangan dinyatakan masuk atau tidak, dapat kita
lihat dari satu alat yang disebut recording. Recording ini disambungkan
dari rolling yang telah disambungkan ke pemain anggar.
a) Rolling
dan Kegunaannya
Rolling adalah roll kabel atau kabel gulung
yang khusus untuk permainan anggar. Rolling ini berfungsi untuk
menyambungkan listrik dari senjata peanggar melalui badan peanggar tersebut ke recording.
Untuk mengenali apa itu rolling sebenarnya cukup sederhana, yaitu
apabila kita melihat pemain anggar berlaga di landasan anggar, di sisi belakang
peanggar tersebut biasanya ada kabel yang menyerupai seperti tali yang dihubungkan
ke terminal roll kabel tersebut. Rolling ini biasanya ditempatkan di
belakang landasan anggar (loper/piste) atau di tempat yang sekiranya
tidak mengganggu pergerakan peanggar pada saat bertanding.

b) Recording
dan kegunaannya
Recording adalah alat
pencatat skor dari hasil perkenaan antar peanggar. Recording ini
berfungsi untuk mendeteksi apabila terjadiperkenaan pada saat tusukan ataupun
parangan, dimana membantu untuk menyimpulkan apakah perkenaan itu sah atau
tidak selain peraturan yang telah berlaku. Jadi, setiap perkenaan pada saat pertandingan
pasti akan terlihat hasilnya salah satunya dengan melihat alat ini. Kita dapat
mengetahui atau menandai kapan saat perkenaan itu sah, yaitu apabila terjadi
perkenaan alat ini akan menyala dan berbunyi, dimana pada saat menyala kita
harus melihat terlebih dahulu lampu apa yang menyala. Karena, pada alat ini ada
dua lampu penanda hasil tusukan atau parangan, ada yang berwarna hijau atau merah
dan ada yang berwarna putih. Lampu yang berwarna hijau atau merah adalah lampu
khusus untuk pemain, sedangkan lampu yang berwarna putih adalah penanda bahwa adanya fall atau kesalahan
pada saat perkenaan, bisa jadi perkenaan tidak tepat pada bidang sasaran yang
syah, bisa juga penanda kalau senjata atau pedang yang kondisinya tidak baik
atau terganggu. Recording ini biasanya ditaruh pada sisi kanan atau kiri
landasan, dimana letak recording ini sendiri haruslah dalam posisi berhadapan/berseberangan
dengan wasit agar mudah dalam penglihatan.

3) Wire
(conector cable)
Wire adalah kabel yang menghubungkan
antara peralatan/ senjata, metallic, masker anggar melewati badan ke rolling-recording.
Kabel ini digunakan karena alur listrik dari senjata ke recording tetap satu
alur berantai. Alur dari senjata menuju dengan body wire menuju recording melewati
kabel rolling.
a) Body
Wire dan Fungsinya
Sesuai dengan pengertian di atas seputar body wire, dimana body
wire itu sendiri merupakan satu rangkaian/alur sehingga dapat terdeteksinya
hasil perkenaan/tusukan/ parangan dari para peanggar. Body wire sendiri
mempunyai bentuk yang berbeda-beda bentuknya pada setiap senjatanya. Body
wire yang dipakai pada saat permainan jenis senjata floret (foil)
itu berbeda bentuknya dengan body wire yang dipakai pada saat permainan
jenis senjata degen (epee). Body wire untuk jenis senjata
sabel (sabre) cenderung sama dengan body wire yang dipakai pada
jenis senjata floret (foil).

b) Wire
Mask dan Fungsinya
Wire mask adalah
kabel yang menghubungkan masker (topeng anggar) dengan metallic jacket. Wire
mask ini sering digunakan hanya pada jenis senjata tertentu, dimana disini wire
mask hanya dipakai khusus pada jenis senjata sabel (sabre). Pada
jenis senjata sabel menggunakan masker (topeng anggar) yang juga dialiri listrik/berkonduktif,
karena bagian kepala merupakan sasaran syah pada jenis senjata ini. Wire
mask ini biasanya dipakai/dipasang di samping kanan/kiri masker (topeng
anggar), dimana sekiranya menurut si peanggar itu sendiri tidak mengganggu
pergerakannya.

4) Sarung
Tangan (Glove)
Sarung tangan adalah bentuk seragam anggar umum yang dipakai untuk
melindungi tangan. Untuk semua jenis senjata, ukuran sarung tangan (glove) haruslah
hingga pangkal pergelangan lengan, sehingga dalam kadaan apapun kurang lebih setengah
sampai setengah lengan yang memegang senjata seluruhnyaharus tertutup guna
mencegah kling (blade/pedang) lawan dapat mencederai lengan, seperti
kling lawan dapat masuk ke dalam lengan baju.

5) Mask (masker/topeng)
Masker adalah alat pelindung wajah yang berbentuk topeng. Anyaman
masker tersebut terbuat dari anyaman baja, dan harus disesuaikan dengan standar
keamanan dari induk olahraga anggar Internasional (FIE = Federation Internasionale
D’Escrime). Dari bagian depan ke samping anyaman maskernya berbentuk
kerucut dengan lidah masker yang terbuat dari bahan tebal berlapiskan busa di dalamnya
dan harus menutupi semua bagian leher peanggar.
\
2.2 Hakikat Kondisi Fisik
Kondisi fisik merupakan aspek penting dan menjadi dasar atau pondasi
dalam pengembangan teknik, taktik, strategi dan pengembangan mental. Menurut
Mochamad Sajoto (1988: 57) kondisi fisik adalah salah satu prasarat yang sangat
diperlukan dalam setiap usaha peningkatan prestasi seorang atlet, bahkan dapat
dikatakan dasar landasan titik tolak suatu awalan olahraga prestasi. Menurut
Sugianto (1993: 221), kemampuan fisik adalah kemampuan memfungsikan organ-organ
tubuh dalam melakukan aktivitas fisik. Kemampuan fisik sangat penting untuk mendukung
mengembangkan aktifitas psikomotor. Gerakan yang terampil dapat dilakukan apabila
kemampuan fisiknya memadai. Suatu kondisi fisik dapat mencapai titik optimal
jika dimulai sejak usia dini dan dilakukan secara terus menerus sepanjang tahun
dengan berpedoman pada prinsip-prinsip dasar latihan.
Di samping itu, perkembangan fisik harus direncanakan secara
periodik berdasarkan tahapan latihan, status kondisi fisik atlet, faktor-faktor
lain, seperti gizi, fasilitas, alat, lingkungan dan status kesehatan atlet. Kondisi
fisik yang baik mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya seorang atlet mampu
dan mudah mempelajari keterampilan yang relatif sulit, tidak mudah lelah saat
mengikuti latihan ataupun pertandingan, program latihan dapat diselesaikan
tanpa mempunyai banyak kendala serta dapat menyelesaikan latihan yang berat.
Kondisi fisik sangat diperlukan oleh seorang atlet, karena tanpa didukung oleh kondisi
fisik yang prima maka pencapaian prestasi puncak akan mengalami banyak kendala,
dan mustahil dapat berprestasi tinggi. Dalam hal ini, dikenal empat macam
kelengkapan yang perlu dimiliki, apabila seseorang akan mencapai suatu prestasi
yang optimal. Sekarang ini, telah berkembang suatu istilah yang lebih populer
dari physical build-up, yaitu physical conditioning yaitu
pemeliharaan kondisi/keadaan fisik. Kondisi fisik adalah satu prasarat yang
sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seorang atlet, bahkan dapat dikatakan
sebagai keperluan dasar yang tidak dapat ditunda atau ditawartawar lagi.
a. Manfaat
kondisi Fisik
Dalam aktivitas olahraga, kondisi fisik sesorang akan sangat mempengaruhi
bahkan menentukan gerak penampilannya. Menurut Harsono (1988: 153), dengan
kondisi fisik yang baik akan sangat
berpengaruh
terhadap fungsi dan system organ tubuh, antara lain:
1. Akan ada
peningkatan dalam kemampuan system sirkulasi dan kerja jantung.
2. Akan ada
peningkatan dalam kekuatan, kelentukan, stamina, dan kondisi fisik lainya.
3. Akan ada
ekonomi gerak yang lebih baik pada waktu latihan.
4. Akan ada
pemulihan yang lebih cepat dalam organ-organ tubuh setelah latihan.
5. Akan ada
respon yang cepat dari organism tubuh kita apabila sewaktu-waktu respon
demikian diperlukan.
Jika kelima keadaan di atas tidak atau kurang tercapai setelah diberi
latihan kondisi fisik tertentu, maka itu berarti bahwa perencanaan,
sistematika, metode, serta pelaksanaanya kurang tepat.
b. Komponen
Kondisi Fisik
Menurut Mochamad Sajoto (1988: 57) kondisi fisik adalah satu kesatuan
yang utuh dari komponen-komponen kesegaran jasmani yang tidak dapat dipisahkan,
baik dalam meningkatkan maupun pemeliharaanya. Artinya bahwa dalam peningkatan
kondisi fisik maka seluruh komponen-komponen tersebut harus dikembangkan.
Sekalipun dalam pengembanganya nanti berorientasi kepada skala prioritas komponen
tertentu sesuai dengan periodesasi, kebutuhan dan tipe gerak dalam olahraga.
Menurut Mochamad Sajoto (1988: 57) mengatakan bahwa komponen-komponen
kondisi fisik dapat dibagi menjadi sepuluh, yaitu kekuatan (strenght), daya
tahan (endurance), daya ledak otot (muscular power), kecepatan (speed),
kelentukan (flexibility), keseimbangan (balance), koordinasi (coordination),
kelincahan (agility), ketepatan (accurary), reaksi (reaction).
Begitu juga Amung Ma’mun, (2003:), berpendapat bahwa unsur kondisi fisik
yaitu :
daya tahan jantung dan paru (general endurance), kekuatan otot (strengh),
daya tahan otot, kelentukan (flexibility), kecepatan (speed), kecepatan
reaksi, power, kelincahan (agility), keseimbangan (balance), Koordinasi
(coordination), dan ketepatan (accurasy). Keseluruhan dari kondisi
fisik olahragawan merupakan komponen biomotor. Menurut Bompa (1994: 259),
komponen dasar dari biomotor olahragawan meliputi kekuatan, ketahanan,
kecepatan, koordinasi, dan fleksibilitas. Adapun komponen-komponen yang lain merupakan
perpaduan dari beberapa komponen sehingga membentuk satu peristilahan sendiri.
Diantaranya seperti : power merupakan gabungan atau hasil kali dari kekuatan
dengan kecepatan, kelincahan merupakan gabungan dari kecepatan dengan
koordinasi. Gambar 10. Keterkaitan antar Kemampuan Biomotor

Sumber: (
Bompa, 1994: 259)
5.
Kebutuhan Kondisi Fisik Pada Cabang Olahraga Anggar
Cabang olahraga anggar pada prinsipnya memerlukan kemampuan menyerang,
bertahan, dan melakukan serangan balik dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Dalam pertandingan anggar tidaklah membutuhkan waktu yang relatif lama yaitu 3
menit dalam setiap pertandingan dan mencari poin/angka sebanyak 5 angka untuk
memperoleh kemenangan. Menurut Amung Ma’mun (2003:15) meskipun gerakan dalam anggar
hanya maju dan mundur, namun dibutuhkan kemampuan fisik yang berkualitas
terutama unsur-unsur daya tahan, kekuatan, power, kecepatan,
dan
kecepatan reaksi. Kelima unsur ini menjadi fondasi dan karakter utama bagi
seorang atlet anggar. Dengan pola serang balik yang selalu bervariasi antara
gerakan ke satu, gerakan ke dua, dan gerakan selanjutnya. Tiga unsur pokok
dalam anggar yaitu: waktu, kecepatan dan ukuran.
Waktu dalam anggar berarti momen yang tepat saat melakukan
serangan untuk menyergap musuh yang lengah. Kecepatan mengacu pada kalua perlu
waktu yang sesedikit mungkin untuk menyempurnakan serangan, pertahanan, atau
gerak serang balik. Ukuran artinya jarak yang harus ditutupi untuk menjangkau
sasaran dengan nilai tusukan atau potongan. Ukuran dimaknai sebagai jarak yang
memisahkan antara dua pemain anggar. Ada tiga ukuran yang umum digunakan dalam
anggar, yaitu jarak diluar jangkauan, pada jarak yang tepat, dan jarak dekat. Secara
khusus anggar ini memiliki karakteristik yang unik terutama dalam hal kecepatan
reaksi dan koordinasi mata, tangan, dan kaki paling menonjol diperlihatkan
dalam cabang olahraga ini. Namun menurut Amung Ma’mun (2003:15) ciri khas
lainnya seperti daya tahan kardiorespirasi, power, dan kekuatan otot juga
sering menjadi tuntutan untuk menjadi seorang atlet besar dan berprestasi di
tingkat dunia. Dari berbagai penjelasan tersebut maka dengan ini penulis
mencoba untuk menampilkan penjabaran dari pengertian mengenai komponenkomponen fisik
umum yang berkaitan dengan kesehatan dan kondisi fisik khusus yang berkaitan
dengan keterampilan anggar yang diperlukan oleh atlet anggar yang terkait
dengan kesehatan yaitu.
1) Kondisi
Fisik Umum Terkait dengan Kesehatan:
Mengetahui komponen kondisi fisik sangatlah penting, karena komponen-komponen
tersebut merupakan sesuatu hal yang vital, dengan kata lain dapat juga sebagai
penentu baik buruknya status atau keadaan fisik seseorang. Komponen fisik dasar
yang dibutuhkan dalam cabang olahraga anggar yaitu:
a) Daya Tahan Jantung dan Paru (General
Endurance)
Ada dua istilah daya tahan, yaitu daya tahan umum (cardio respiratory)
dan daya tahan khusus (muscle endurance). Daya tahan umum (cardio
respiratory) atau yang biasa disebut daya tahan jantung dan paru
adalah keadaan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja dengan waktu
yang lama tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah
menyelesaikan pekerjaan tersebut (Amung Ma’mun 2003:16).
b) Daya Tahan Otot
Daya tahan otot adalah kapasitas otot untuk melakukan kontraksi
secara terus-menerus pada intensitas sub maksimal. Pada dasarnya daya tahan
kekuatan otot merupakan rentangan antara daya tahan dan kekuatan otot. Daya
tahan otot diperlukan untuk mempertahankan kegiatan yang sifatnya didominasi
oleh penggunaan otot atau kelompok otot (Amung Ma’mun 2003:17).
c) Kelentukan (Flexibility)
Kelentukan adalah keefektifan seseorang dalam penyesuaian dirinya
untuk melakukan segala aktivitas tubuh dengan penguluran seluas-luasnya,
terutama otot-otot dan ligamen-liganen di sekitar persendian (Mochamad
Sajoto,1988: 58). Kelentukan (fleksibilitas) adalah kemampuan otot dan
persendian badan untuk bergerak seluas mungkin dan mempertahankannya dalam
beberapa detik (Amung Ma’mun 2003:17).
d) Kelincahan (Agility)
Kelincahan adalah kemampuan untuk mengubah arah atau posisi tubuh
dengan cepat dilakukan bersama-sama dengan gerakan lainnya. (Amung Ma’mun
2003:19).
e) Kecepatan (Speed)
Kecepatan merupakan kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat
lain dalam waktu yang paling singkat (Amung Ma’mun 2003:18). Sedangkan menurut
Mochamad Sajoto (1988: kecepatan adalah kemampuan seseorang dalam melakukan gerakan
berkesinambungan, dalam bentuk yang sama dalam waktu sesingkat-singkatnya.
f) Power
Power merupakan kemampuan seseorang untuk
melakukan kekuatan maksimum dengan usaha yang dikerahkanya dalam waktu sesingkat-singkatnya.
Menurut Amung Ma’mun (2003 : 19) power adalah gabungan antara kekuatan
dan kecepatan atau pengerahan gaya otot maksimum dengan kecepatan maksimum.
Sedangkan menurut Sukadiyanto (2005: 117) power adalah hasil kali antara
kekuatan dan kecepatan. Pada dasarnya kekuatan dan kecepatan kedua-duanya
melibatkan unsur power. Wujud gerak dari power adalah selalu bersifat eksplosif.
2) Kondisi
Fisik Khusus Terkait dengan Keterampilan Anggar
Fisik yang berkaitan dengan keterampilan memerlukan tingkat kondisi
fisik yang sangat tinggi. Anggar adalah cabang olahraga yang memiliki
karakteristik berbeda dengan cabang lain, sehingga dari kondisi fisik yang
mendasar dan umum diperlukan penerapan yang baik yang sudah mengacu ke dalam
beberapa keterampilan dasar. Berikut adalah komponen dari kemampuan fisik yang
telah menerapkan beberapa unsur keterampilan dasar dalm cabang anggar:
a) Kekuatan dengan Menggunakan Tes Split
Squat Jump
Kekuatan tungkai pada cabang olahraga anggar sangat diperlukan
terutama untuk mengukur kekuatan tungkai atlet tersebut selama bertanding. Split
squat jump adalah suatu bentuk gerakan melompat dari posisi siap dilapangan
yang kemudian melompat dengan kaki pada saat di atas setengah split yang
kemudian mendarat dengan kedua kaki (Amung Ma’mun 2003: 43).
b) Kecepatan dengan Menggunakan Tes Step
Maju Mundur
Step maju mundur adalah gerakan melangkah ke-depan dengan posisi
kuda-kuda dan gerakan mundur ke-belakang dengan posisi kuda-kuda. Kecepatan
pada cabang olahraga anggar sangat diperlukan terutama untuk mengukur kecepatan
menyerang ke depan dan bertahan dengan melangkah mundur secepat mungkin selama atlet
bertanding (Amung Ma’mun 2003: 42).
c) Kecepatan Reaksi
Kecepatan reaksi (disini dalam artian olahraga anggar) adalah gerakan
menyerang secepat mungkin ke sasaran (popi) setelah menerima rangsangan.
Kecepatan reaksi pada anggar sangat diperlukan terutama untuk melakukan
serangan (Amung Ma’mun 2003: 44)
d) Daya Tahan dengan Menggunakan Tes Shadow
Fencing
Daya tahan pada cabang olahraga anggar sangat diperlukan terutama
untuk mengukur daya tahan selama atlet bertanding (Amung Ma’mun 2003: 41). Shadow
(red: bayangan) Fencing (red:anggar), shadow fencing adalah
pola melakukan gerakan-gerakan bayangan dalam bermain anggar, dimana atlet
mengilusikan lawan dalam bentuk bayangan sambil berlatih anggar
2.3 Minimnya prestasi peAnggar Indonesia
Dari rekam jejak prestasi Anggar di kancah Internasional,
Indonesia masih belum bisa berbicara banyak di kancah Internasional. Bicara
soal “kancah Internasioanal” tentu tidak lepas dari prestasi. Soal prestasi,
olahraga Anggar belum banyak menyumbangkan prestasi yang ‘wah’ untuk Indonesia. Mengenai prestasi tentu tidak lepas dari kepelatihan.
Nah dalam dunia kepelatihan, sarana dan prasarana sangatlah penting dalam
penunjangan perkembangan si atlet. Selain sarana dan prasarana, belum banyaknya
club Anggar di Indonesia juga bisa disebut menjadi salah satu penyebab minimnya
prestasi. Dengan kata lain, Anggar di Indonesia belum memasyarakat seperti
halnya olahraga sepakbola, bulutangkis, volley, dll
2.4 Memasyarakatkan olahraga Anggar
Perlu diketahui, pengetahuan masyarakat terhadap olahraga Anggar
masihlah sangat kecil dibandingkan pengetahuan masyarakat terhadap olahraga
lainnya seperti Sepakbola, bulutangkis, atau volley. Untuk dapat memberikan
pengetahuan lebih kepada masyarakat, haruslah ada “wadah” yang bisa dijadikan menjadi sumber pengetahuan masyarakat
terhadap olahraga Anggar secara langsung. Salah satu caranya yaitu dengan
sering mengadakan sosialisasi hingga turnamen-turnamen Anggar di suatu daerah.
Untuk dapat menarik minat masyarakat, Anggar tidak boleh hanya sebatas olahraga
seni beladiri saja, tapi harus ada unsur pendidikan, hiburan, dan hal lainnya
yang berbau positif dalam olahraga Anggar.
Di Indonesia, mayoritas kalangan masyarakat Indonesia tentu sudah
mengenal olahraga Sepakbola. Pada awalnya, sepakbola di Indonesia dimainkan
oleh orang Belanda yang sering mengajak orang pribumi untuk bermain bersama.
Nah, point yang didapat dari sejarah singkat Sepakbola di Indonesia untuk
Anggar yaitu harus diadakan secara kontinu di berbagai daerah mengenai olahraga
Anggar
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari
uraian di atas dapat dibuat suatu simpulan bahwa untuk dapat meningkatkan
prestasi pada olahraga anggar yaitu haruslah seorang atlet mempunyai kemampuan keterampilan
fisik yang mumpuni seperti bagaimana kekuatan
pegangan senjata, keseimbangan
tubuh, dan daya ledak otot tungkai.
Olahraga Anggar ini haruslah dapat memasyarakat di kalangan masyarakat agar semakin banyaknya peminat
olahraga Anggar dan banyak pula klub-klub Anggar yang berdiri di Indonesia.
Jika olahraga Angar sudah memasyarakat, tentu akan semakin mudah dalam
pemilihan SDM (Sumber Daya Manusia) atlet anggar. Dan jika sudah begitu
3.2 Saran
Dari
uraian panjang di atas, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut :
-
Sosialisasikan olahraga Anggar secara kontinu di
berbagai daerah
-
Kembangkan lagi turnamen Anggar baik resmi atau amatir
-
Tingkatkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan
olahragaAnggar
-
Tingkatkan kualitas manajemen klub Anggar
DAFTAR PUSTAKA
-
Skripsi C.
Tri Juni Pertiwi mengenai “Profil Kondisi Fisik Atlet Anggar Di
Kabupaten
Purworejo Jawa Tengah”
-
Jurnal Ilham Kamaruddin mengenai “Kontribusi Kekuatan Pegangan, Keseimbangan Dan Daya
Ledak Tungkai Terhadap Ketepatan Tusukan Dalam Permainan Anggar Senjata Degen “

Komentar
Posting Komentar