Tugas Pengantar Ilmu Pendidikan
Nama : Afdol Febriansyah
Jurusan/Kelas : Pendidikan Kepelatihan Olahraga/2014 B
Nim : 14060474080
Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Pendidikan
KISAH SEKOLAH
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Nama saya Afdol Febriansyah, lahir
di Kota Bekasi delapan belas tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 9 Maret 1996,
saya tinggal di Jalan Cikunir Raya Gang H.Abbas RT 001 RW 002 No.106, Kel.
Jakamulya Kec. Bekasi Selatan Kota Bekasi Provinsi Jawa Barat. Pada kesempatan
kali ini saya akan sedikit menceritakan sebuah cerita dengan judul KISAH
SEKOLAH sebagaimana isi cerita ini merupakan beberapa kisah yang masih saya
ingat ketika saya masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar
(SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), hingga
saat ini duduk di bangku Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Fakultas Ilmu
Keolahragaan (FIK) jurusan Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PenKepOr).
https://docs.google.com/spreadsheets/d/1s2D_nl-K4MvcX_TzjF6J76tXh2jk3OswWEjJyFmsAXg/edit#gid=1801473108
Kisah Sekolah yang pertama saya awali ketika saya duduk di bangku Taman
Kanak-Kanak atau biasa disebut TK, saya TK di TK Al-Hidayah yang beralamat di
Jalan H. Ilyas, Kel. Jakamulya, Bekasi Selatan yang letaknya tidak terlalu jauh
dari tempat tinggal saya. Suasana di sekitaran TK saya pada waktu itu sangatlah berbeda dengan saat ini. Saat ini
sekitaran TK sudah ramai dengan bangunan, baik rumah warga maupun toko-toko.
Tidak seperti dahulu yang masih banyak pohon dan bangunan masih jarang. Saya
duduk di bangku TK sekitar tahun 2001 hingga 2002, tidak terlalu banyak kisah
yang saya ingat saat saya masih TK, dengan guru-guru TK pun saya sudah banyak
yang lupa. Tapi yang saya ingat pasti adalah dengan seringnya saya menggunakan
fasilitas bermain yang ada disana. Dan juga saya masih ingat ketika saya
menjadi orang nomor tiga dari banyak
murid lainnya dalam hal membaca. “Membaca” disini merupakan membaca sebuah buku
ejaan yang terdiri dari banyak halaman dengan makin jauhnya halaman maka makin
tinggi pula tingkat kesulitannya (bagi anak TK). Saat itu entah mengapa saya
seolah-olah ingin berkompetisi dengan teman lainnya dalam hal membaca walaupun
pada akhirnya saya tetap menjadi orang
nomor tiga di bawah dua teman saya, yaitu satu laki-laki dan satu perempuan
yang keduanya saya sudah lupa nama dan rupanya seperti apa. Hahaha
Kisah sekolah yang kedua yaitu
ketika saya duduk di bangku Sekolah Dasar atau biasa disebut SD, saya SD di SDN
Jakamulya 2 yang beralamat di Jalan Assamawi, dimana SD tersebut berada satu RT
dengan saya, hanya berbeda gang saja, jadi saya tidak perlu naik kendaraan
untuk sampai ke SD. Saya tidak mengingat betul kisah-kisah di awal SD, yang
pasti saya jarang sekali diantar untuk ke sekolah karena memang saya sudah
terbiasa pulang-pergi jalan kaki dengan teman-teman saya yang lainnya.
Kira-kira ketika kelas 3, SD saya ada renofasi bangunan dan otomatis seluruh
murid harus menumpang dulu ke bangunan lain hingga proses renovasi selesai, dan
kebetulan saat itu SD saya menumpangnya di bangunan TK saya yang punya beberapa
ruang kosong belum terpakai. Selain itu, ada beberapa kisah yang masih saya
ingat ketika saya masih SD, diantaranya ketika renang, saat itu SD saya sering
sekali renang di Villa Nusa Indah dengan guru olahraga yang bernama Bu Oom,
entah siapa nama panjangnya saya lupa. Kejadian tak terlupakan saat renang
yaitu dengan terjadinya kecelakaan yang saya alami, lutut kiri saya sampai
berdarah karena kecelakaan itu, lukanya pun masih membekas hingga saat ini.
Kecelakaan yang dimaksud disini adalah ketika saya melompat ke kolam yang
ternyata kolam itu dangkal (orang betawi bilang cetek), karena saya melompat dengan bagian dan tempat yang salah
hebohlah pengunjung kolam saat itu karena warna air perlahan mulai berubah
warna menjadi merah karena tercampur dengan darah lutut kaki kiri saya. Saat
kejadian saya tidak langsung melapor ke guru karena saya merasa tidak ada luka
serius, selang beberapa saat ternyata serius
juga luka ini. Pengobatan untuk luka saya saat itu juga masih saya ingat, yaitu
dengan menggunakan kopi hitam bubuk.
Kisah lainnya saat masih SD yaitu
dengan “makin menjadinya” saya, saya dikenal dengan siswa yang bandel karena
sering sekali membuat guru jengkel, diantaranya saat saya melempari kaca rumah
kosong yang ada di depan gedung sekolah dengan batu, tentu saya tidak
sendirian, tapi dengan teman lainnya juga. Peristiwa lainnya yang membuat guru
jengkel saat itu adalah ketika saya dan beberapa teman saya menirukan permainan
salah satu program yang ada di stasiun televisi swasta (TRANS TV) Indonesia, program
televisi yang saya tirukan bersama teman saya yaitu “Sssttt Usil Banget Deh”.
Ketika SD sering sekali kita bermain hanya dengan geng sendiri, itupun terjadi dengan saya, saya hanya bermain dengan
beberapa teman se-geng saya, dan juga
pernah terjadi ‘tawuran mini’ antar geng di kelas.
Selain kisah tadi, saya yakin
kebanyakan murid SD yang ada di Indonesia meluapkan emosinya, mengekspresikan
argumentasinya, mengungkapkan perasaannya dan lain sebagainya dengan
menggunakan SURAT yang ditulis tangan langsung oleh si penulis dan dikirim
langsung pula ke orang yang dituju. Saya pun salah satu yang menggunakan SURAT
tersebut dengan tujuan hmm banyak lah. Kisah
SD yang tak terlupakan lainnya adalah mengenai percintaan, satu orang suka
dengan si A, maka teman lain akan ikutan suka dengan si A sehingga terjadi
perebutan untuk mendapatkan si A tersebut, tetapi perebutan yang dilakukan saat
itu terjadi dengan sehat dan tidak menimbulkan konflik. Bicara sedikit mengenai
percintaan, saya ingat ketika itu hubungan terputus gara-gara Sepakbola, tapi
tidak usah lah bahas ini lebih jauh lagi, Haha. Dibalik ‘kebangoran’ saya, saya
juga sering ikut lomba-lomba tingkat SD seperti CALISTUNG (membaca, menulis,
berhitung), Cerdas Cermat, dan lain sebagainya. Kesimpulannya pada saat SD,
saya siswa yang bandel sekaligus bisa diandalkan di bidang akademiknya hehe.
Bukan bermaksud menyombongkan diri, tetapi selama 6 tahun di SD peringkat kelas
terendah saya yaitu peringkat 6 atau 4 kalau tidak salah.
Setelah lulus SD, saya melanjutkan
ke SMPN 29 Kota Bekasi yang beralamat di Jalan H.Ilyas, Kel. Jakamulya Kec.
Bekasi Selatan, ya alamatnya sama dengan alamat TK saya, karena memang letak
SMPN 29 ini dekat dengan TK Al-Hidayah. Sebelum bahas lebih jauh mengenai kisah
di SMP, saya akan membahas dulu mengenai “bagaimanaa saya sampai masuk di SMP
tersebu?.” Lulus SD dengan nem yang tidak besar besar amat dan lagipula saat
itu penerimaan siswa baru masih dengan sistim tes, jadi saya harus tes dulu dan
bersaing dengan yang lainnya agar bisa masuk
SMP tersebut dan pada akhirnya saya bisa masuk SMP tersebut. Saya tes di
SMP tersebut karena factor teman yang banyak pula yang tes dan diterima di SMP
itu. Suasana pada saat saya masih kelas 7 SMP yaitu cukup menyedihkan, saat itu
hanya ada satu gedung dengan 4 ruang (sudah termasuk kantor guru). Ketika itu,
selama satu tahun ada proses pembangunan gedung baru yang mengharuskan beberapa
kelasuntuk menumpang ke bangunan lain,
dan SMP saya waktu itu menumpang di SDN Jakamulya IV. Seiring berjalannya
waktu, kini bangunan SMP saya menjadi sungguh luar biasa dengan pemandangan
indah berupa rawa-rawa yang masih terawat dan banyakpula rumah masa depan di
belakang bangunan yang sebelah timur. Rumah masa depan itu tentu saja umum
untuk siapa saja bagi yang mau menempatinya :D
Kisah di SMP ini sungguh luar biasa,
saya menjadi makin menjadi-jadi alias makin menjadi siswa yang bandel karena
sering melanggar aturan sekolah, termasuk sering membawa sepeda motor walaupun
jarak yang ditempuk nggak jauh-jauh amat.
Di SMP prestasi akademik saya kurang bagus, TETAPI saya memiliki prestasi non
akademik yang tak terlupakan, yaitu saat saya Juara 3 Futsal tingkat SMP
Se-Bekasi, dan yang paling tak terlupakan adalah Juara 1 Futsal tingkat SMP
Se-Jabodetabek. Juara 1 yang satu ini tidak diperoleh secara legal, saya dan
beberapa teman saya mengikuti turnamen
ini tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Padahal sekolah sudah melarang kami (tim
futsal SMP) untuk berpartisipasi di turnamen itu, tetapi saya dan teman saya
tetap ingin mengikutinya. Dan akhirnya saya yang memimpin rekan-rekan saya
untuk berpartisipasi di turnamen tersebut. Uang pendaftaran saat itu kami
peroleh dengan meminjam uang kepada teman yang memegang uang untuk pembuatan
switter dan kebetulan pemakaian uang tersebut masih lama digunakannya. Setelah
mendaftar, pihak sekolah mengetahuinya bahwa kami berpartisipasi pada turnamen
tersebut, dengan ancaman “DIKELUARKAN” jika tetap melanjutkan turnamen
tersebut. Tetapi saya yang paling bersikeras untuk melanjutkan turnamen itu
mengajak rekan-rekan tim futsal untuk tetap melanjutkannya, karena saat iu saya
berpikiran merasa punya generasi emas yang dapat menjuarai turnamen tersebut.
Beberapa pertandingan kami lalui dengan cemas dan dramatis karena lawan yang
kami hadapi cukup berat dan pada akhirnya SMP saya menang melawan Mtsn 1 Kota
Bekasi kalau tidak salah. Dan kami pun berhak mendapatkan trophy dan uang
pembinaan, dimana uang pembinaan itu digunakan untuk mengganti uang
pendaftaran, dibagikan ke para pemain dan juga sedikit berfoya bersama para
penonton yang juga teman SMP kami. Oiya, saat menjalani turnamen tersebut kami
tanpa pelatih resmi dari SMP, yang ada hanyalah pelatih tim local dan alumni
SMP yang kami undang untuk membina kami.
Setelah itu, trophy yang kami
dapatkan kami serahkan ke salah seorang guru SMP yang mendukung kami secara
diam-diam dan membungkus trophy itu dengan koran lalu disimpan di ruang
koperasi. Setelah pemberian trophy tersebut, kesiswaan sekolah memanggil satu
per satu pemain yang ikut dalam turnamen itu dengan pengeras suara dan
menggiring kami ke ruang kepala sekolah. Untuk pertama kalinya KAMI masuk ke
ruang kepala sekolah dan berlinang air mata karena beberapa ucapan yang menyebutkan
“DIKELUARKAN SAJA” yang diucapkan oleh beberapa wali kelas masing-masing pemain
saat itu. Perkataan itu mungkin hanya untuk “menguji” kami saja, karena
buktinya kami tidak “DIKELUARKAN”
Peristiwa itu terjadi saat kami
kelas 3 SMP. Setelah kami lulus, pihak sekolah mungkin baru sadar akan potensi
siswanya dan sering mengikutsertakan tim futsal SMP dalam turnamen futsal serta
mengangkat pelatih untuk melatih adik-adik kelas saya, saya hanya sedikit
tertawa jahat dengan hal itu, dalam hati saya berkata “kemaren kemana ajaa??
Baru sekarang panggil pelatih.” Yang mengejutan ternyata pelatih tersebut
mantan pelatih SMP yang kami kalahkan di turnamen tersebut di babak semifinal
kalau tidak salah.
SMP telah berlalu, dan saya sibuk
dengan melanjutkan kemana? Keinginan saya adalah melanjutkan ke SMAN 3 atau
SMAN 8 yang prestasi olahraganya cukup bagus. Tetapi karena teman banyak yang
mendaftar di SMKN 9 maka saya pun ikut dengan pilihan teman saya. Masuk di SMKN
9 bukan sesuatu yang mudah, walaupun sekolah baru lahir tetapi sudah banyak
peminatnya. Dan pada akhirnya banyak teman SMP saya (termasuk saya) yang
diterima di SMKN 9 di jurusan Perbankan (PB) maupun Desain Komunikasi Visual
(DKV) yang merupakan satu-satunya jurusan yang ada di Kota Bekasi.
Dengan status USB (Unit Sekoah
Baru), gedung sekolah pun belum ada adan terpaksa saya khususnya dan teman yang
lainnya menumpang (lagi) di gedung SDN Pekayon Jaya (PJ) IV yang beralamat di
Jalan Damar 9 Kel. Pekayon Jaya yang letaknya tidak terlalu jauh dan tidak
terlalu dekat dari rumah saya karena masih dalam satu kecamatan yaitu Kec.
Bekasi Selatan. Tidak ada yang terlalu WOW selama saya SMK, saya tetap mbandel
tetapi tidak separah saat saya masih SMP. Saya pulang-pergi sekolah bersama
teman saya dengan menggunakan motor saya, dan teman saya sangat pengertian
dengan memberikan “uang bensin” sekali dalam seminggu kepada saya. Mau tidak
mau saya akan menerimanya karena dia memberinya dengan “memaksa”.
Suasana di gedung SDN PJ IV cukup
nyaman, karena berada di tengah komplek dengan halaman yang cukup luas. Saat
angkatan saya yang diterima hanya 4 kelas dengan rincian 2 jurusan PB dan 2
jurusan DKV, tiap kelas rata-rata terdiri dari 35 murid. Di kelas saya (PB 1)
laki-laki hanya ada 7 orang (termasuk saya) dan sisanya perempuan. Sedangkan di
jurusan DKV antara laki-laki dan perempuan cukup balance. Bandelnya saya di SMK
mungkin yang paling parah saat saya melawan perkataan kepala guru program saya.
Salah satu peristiwa di SMK yang tak terlupakan bagi saya yaitu “mbolos”
sekolah tiap hari sabtu karena kebetulan ada turnamen sepakbola mini yang
jadwalnya itu hari sabtu. Saya bermain untuk sebuah tim dimana pelatihnya itu
merupakan pelatih yang membina saya saat menjuarai turnamen saat SMP lalu. Saya
tentu saja tidak sendirian, saya berdua dengan teman sekolah bahkan teman
sekelas bahkan lagi teman sepulang-pergi sekolah :D
Saat turnamen mencapai semifinal pihak sekolah mulai
curiga karena saya dan teman saya tidak masuk sekolah terus setiap hari sabtu,
kami berduapun dipanggil ke ruang kepala sekolah dan ditanyakan ini itu dan
kamipun jujur bahwa kami mbolos karena
bermain sepakbola mini, bukan keliuran kesana-kemari. Pak Kepala
Sekolahpun menasehati kami berdua agar “Ijin Saja” jika ada pertandingan
asalkan ada surat dari klub yang membutuhkan saja kalian berdua untuk
mendapatkan dispensasi. Dan akhir dari turnamen itu yaitu tim saya mendapatkan
juara 2 setelah kalah di partai final. Yang tidak terlupakan dari turnamen itu
yaitu saya mendapat bayaran dari pelatih tiap kali selesai pertandingan, jujur
saya tidak mau menerima itu karena ada 2 tujuan saya, yang pertama saya ingin
membalasbudi dia karena pernah membina tim futsal SMP saya di turnamen lalu dan
yang kedua
adalah karna dia telah memberikan saya kesempatan untuk berrmain dimana
itu adalah kesenangan dan hobi saya.
Selain dengan mengikuti beberapa turnamen, saya juga
mengikuti ekstrakulikuler futsal di sekolah sejak saya SMP sampai SMK. Selama
ekstrakulikuler futsal di SMK banyak sekali polemik yang terjadi, salah satunya
yaitu masalah kepelatihan. Pelatih futsal yang pertama saat itu adalah
kebetulan juga seorang guru di SMKN 9, yaitu guru olahraga yang juga menjabat
sebagai kesiswaan di SMKN 9 dan akrab juga dengan saya. Beberapa turnamen saya
ikuti dibawah asuhannya tetapi tak kunjung meraih satu kemenangan pun. Mungkin
karena factor kepelatihannya, sebab pelatih saat itu bukan pelatih murni futsal
melainkan pelatih volley. Lalu saya dan teman saya berbicara ke pelatih itu
dengan baik dan sopan untuk mengusulkan satu nama untuk dijadikan pelatih baru dan pelatih yang lama
lebih baik menjadi Pembina ekstrakulikuler futsal saja karena Pembina futsal
yang lama “kurang jalan”. Ada sedikit kendala dalam pengangkatan pelatih baru
yaitu kendala dari Pembina ekstrakulikuler itu sendiri. Tapi lambat laun
kendala itu menjadi clear dan sampai saat ini pelatih baru itu tetap jadi
pelatih futsal SMKN 9 dan bahkan bekerja juga sebagai staff di SMKN 9. Mengapa
saya dan teman saya mengusulkan dia? Ya karena dia itu merupakan orang yang
membantu membina saya dan rekan tim futsal SMP saya saat juara 1 itu.
Walaupun belum memberikan kemenangan, tetapi saya
merasakan perbedaan dalam gaya bermain saya dan tim futsal SMKN 9, selain
perubahan gaya bermain, futsal SMK juga aktif dan rutin latihan sampai-sampai
membentuk tim futsal putrinya. Perjalanan saya di futsal SMK saya jalani dengan
happy karena saya memang hobby futsal, saya sering sekali mengeluarkan uang
lebih untuk membayar sewa lapangan, membeli air, dll karena rekan-rekan yang
lain banyak yang kurang jujur dalam pemberian uang iuran yang rutin dilakukan
saat selesai latihan. Tapi sekali lagi saya menjalaninya dengan happy, anggap
saja itu sodaqoh jariah untuk kelak nanti.
Selain futsal, saya juga pernah ikut serta dalam
Liga Pendidikan Indonesia (LPI) antar SMA/sederajat. Tapi sayang, dalam 3
pertandingan penyisihan grup tim sepakbola SMK saya tidak meraih satu
kemenangan pun. Tapi bagi saya itu sebuah kemakluman, mengingat jangka waktu
latihan yang sangat minim serta belum berpengalamannya para pemain bermain di
lapangan sepakbola, karena kebanyakan pemain saat itu adalah pemain futsal
Tidak hanya di sepakbola/futsal, saya juga pernah
mengikuti lomba paskibra dimana saat itu saya menjadi danton dari para pasukan
paskibraka sekolah saya, dengan pengalaman yang minim dan belum terbentuk lama
pasukannya, kami pun tidak mendapat apa-apa pada lomba paskibra antar
SMA/Sederajat itu, tetapi kami mendapatkan pengalaman yang tentunya sangat
berharga dan dapat berguna dikemudian hari. 2 setengah tahun saya menumpang di
SDN PJ IV, akhirnya pada bulan Januari 2014 seluruh murid SMKN 9 tidak lagi
menumpang dan menempati gedung baru yang baru saja dibangun yang beralamat di
di Jalan Cikunir Raya Gang H.Abbas RT 001 RW 002, Kel. Jakamulya Kec. Bekasi
Selatan Kota Bekasi. Ya alamat tersebut memang alamat rumah saya, karena memang
letak bangunan sekolah tersebut dekat dengan rumah saya seperti jarak dari
Kampus FIK ke Kampus FIP. Suasana di gedung tersebut cukup nyaman, karena
berada di pemukiman yang penduduknya cukup ramah dan bangunan sekolahnya
berdiri di lahan kosong seberang jalan tol cikunir.
3 Tahun lamanya saya bersekolah di SMKN 9, PKL, UTS,
UAS dan UAN telah saya lalui dan hanya tinggal menunggu hasil pengumuman UAN.
Sebelum pengumuman, saya mencari peruntungan dengan mengikuti SNMPTN. Salah
satu penilaian dalam SNMPTN yaitu akreditasi sekolah, yaa namanya sekolah saya
baru jadi belum terakreditasi jadi yaa saya ikut SNMPTN cuma iseng-iseng aja.
Pengumuman telah diumumkan dan akhirnya angkatan pertama SMKN 9 lulus 100%.
Setelah pengumuman lulus itu saya bingung mau kemana, SNMPTN kemungkinan gagal
dan kerja pun saya belum siap saat itu. Dan pada akhirnya ada pendaftaran Brigadir
Polisi, saya pun tertarik untuk masuk Polisi. Tetapi pada saat itu saya belum
bisa mendaftar karena ada persyaratan administrative saya yang bermasalah.
Persyaratan administrative baru clear setelah pendaftaran ditutup, jadi mau
gamau harus rela melepas keinginan masuk Brigadir Polisi tahun itu. Beberapa
minggu setelah pendaftaran Brigadir ditutup, saya mendengar ada pembukaan
pendaftaran Akademi Polisi (AKPOL), dan saya pun mencari info tersebut. Setelah
mendapat info dan mengetahui persyaratannya, saya pun segera melengkapi
persyaratan untuk pendaftaran menjadi AKPOL tersebut, okeh persyaratan sudah
lengkap, setelah mendaftar ternayata saya ditolak karena saya ini lulusan SMK.
Sebab AKPOL itu hanya menerima lulusan SMA/MA kalau tidak salah. Begitu menyesalnya
saya sudah lelah menyiapkan persyaratan bolak-balik kesana-kesini untuk
melengkapi persyaratan tetapi saya melewatkan satu syarat yang sederhana, yaitu
masalah lulusan itu tadi. Saya mencoba berusaha mengikhlaskannya dan tertarik
untuk masuk PTN. SBMPTN adalah salah satu jalur masuk PTN selain SNMPTN dan
ujian mandiri. Lalu saya mencari info di internet mengenai SBMPTN dan saya pun
mendaftar SBMPTN dengan tujuan PTN di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas
Negeri Jakarta (UNJ), dan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dengan jurusan
semuanya Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Saya memilih ketiga PTN tersebut
karena 3 PTN tersebut berada di kota-kota besar yang sering muncul di televisi
jadi yaa saya pilihlah ketiganya, selain itu passing grade di jurusan ketiga
PTN tesebut membuat saya tertantang. Sebagai peserta dengan juruan tersebut,
selain tes materi saya juga harus melalui tes keterampilan. Tes teori
dilaksanakan di SMA swasta di Bekasi yang lokasinya tidak jauh dari SDN PJ IV,
sedangkan tes keterampilan dilaksanakan di UNJ.
Sebelum tes teori dilaksanakan, tentu saja saya
tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang saya dapatkan dari sekolah saja. Saya
ingin lebih dari sekadar pengetahuan dari sekolah, saya belajar dengan mencari contoh-contoh
soal di internet, membeli buku contoh soal SBMPTN, dan meminjam contoh-contoh
soal try out SBMPTN.

Terlebih soal-soal SBMPTN itu ada yang saya tidak
pelajarkan di sekolah SMK. Ikhtiar berdoa tawakal, ikhtiar berdoa tawakal dan
menghindari dosa-dosa hanya itu yang banyak saya lakukan selama bulan Ramadhan
sebelum tes teori dilaksanakan. Ketika telah dilaksanakannya tes teori, kini
saya pun focus untuk tes keterampilan, jauh hari sebelum tes keterampilan saya
menggenjot fisik saya dengan rajin berolahraga hingga saatnya tiba tes
keterampilan dan menyelesaikannya. Lokasi tes keterampilan sebelumnya saya
tidak mengetahuinya, hanya sekadar tahu alamatnya saja. Tapi untunglah ada
salah satu teman saya yang tahu UNJ itu dimana, dan saya pun meminta
ditunjukkan jalan kesana hingga 2 kali agar saya benar-benar hafal jalannya.
Tes keterampilan dilaksanakan jam 7 pagi di gedung serbaguna UNJ, saya
berangkat dari rumah pukul setengah 6 pagi untuk mengantisipasi macetnya
ibukota.
Selama perjalanan menuju UNJ, bibir saya terus
mengucap sholawat nabi agar mendapatkan ketenangan dan kelancaran dalam
menghadapi ujian yang akan saya laksanakan. Hari demi hari berlalu mendekati
pengumuman SBMPTN dan saya pun makin giat beribadah meminta doa kepada Allah
SWT untuk diberikan hasil yang bagus dan keikhlasan hati yang tulus jika gagal.
Tahajud, dhuha, tarawih, witir, perbanyak tadarus quran, Sunnah itu yang sering
saya lakukan selama bulan Ramadhan sambil menunggu hasil SBMPTN. (kegiatan
tersebut tidak bermaksud untuk menyombongkan diri)
Tiba saatnya pengumuman SBMPTN yang kalau tidak
salah itu terjadi pada tanggal 16 Juli, dan akhirnya…..

Alhamdulillah, Allah itu maha adil.
Satu hari sebelum pengumuman kelulusan SBMPTN, dalam
doa saya berucap “Ya Allah, besok sudah pengumuman SBMPTN, apapun hasilnya
kuserahkan semuanya kepadamu ya Allah. Aku telah berusaha sebisa dan semampuku
dan kini saatnya aku menyerahkan apapun hasilnya kepadamu” (kurang lebih
seperti itu doa saya). Dan tiba di hari pengumuman kelulusan SBMPTN, sebelum
saya meng’klik’ tombol pengumuman kelulusan, bibir saya tak henti-hentinya
mengucap LAILAHAILLALLAH dengan jari telunjuk kanan mengacung dan hati yang
bergetar, bibir ini mengucap ALLAHUAKBAR berbarengan dengan meng’klik’ tombol
kelulusan dan akhirnya ALHAMDULILLAH, saya sekarang menulis kisah ini di Kosan
Lidah Wetan Gang 7 pada tanggal 3
Oktober mulai sebelum ashar sampai selesai
Setelah dinyatakan lolos SBMPTN, saya masih mencari
informasi mengenai apa yang harus saya lakukan selanjutnya. Dan menurut
informasi yang saya dapat ternyata ada jadwal daftar ulang dilaksanakan di GEMA
Unesa (Ketintang) dengan penjadwalan perFakultas beda-beda, dan jadwal daftar
ulang FIK dijadwalkan pada hari jumat tanggal
8 Agustus pukul 8.00 sampai dengan selesai. Pada saat daftar ulang harus
membawa beberapa persyaratan dan membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) di kantor
cabang Bank BTN seluruh Indonesia, pada saat itu setidaknya ada 4 Bank BTN yang
saya datangi untuk membayar UKT tapi Bank tersebut tidak bisa
mengoperasikannya, setelah muter-muter dengan jarak yang cukup jauh antar Bank
akhirnya bisa juga saya membayar UKT di Bank BTN tempat saya Praktek Kerja
Lapangan (PKL) saat SMK lalu. Pembayaran UKT sudah clear dan saya pun berangkat
daftar ulang bersama Ayah saya (saya manggilnya bapak) dengan naik kereta,
dengan harga tiket Rp 300.000 per orang. Padahal pesan tiketnya sudah jauh-jauh
minggu, mungkin karna masih suasana lebaran jadi yaa ngga dapet tiket yang
murah. Saya dan bapak saya pertama kali sampai di Surabaya yaitu di Stasiun
Pasar Turi sekitar jam setengah 4 lewat, jadi setiba di Stasiun kami makan dulu
lalu langsung ke Masjid dekat stasiun untuk solat Subuh. Setelah solat Subuh kami
berangkat lah kita ke Ketintang, tapi tidak semudah itu, sebelum berangkat kami
Tanya-tanya dahulu ke orang sekitar bagaimana untuk bisa sampai ke Ketintang.
Untunglah arek Suroboyo itu
baik-baik, ditunjukanlah kami agar naik angkot dan turun di depan Rumah Sakit
Islam (RSI), setelah sampai di RSI kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki
Becak.
Sampai di GEMA pada pukul setengah 6, dan masih
sangat sepi sekali saat itu. Istirahatlah kami di bangunan yang dekat lapangan
tenis. Proses daftar ulang berjalan lancar, setalah daftar ulang selesai lalu
kami ke Lidah Wetan untuk melihat kampus FIK sekaligus mencari kos-kosan.
Setelah mendapat kos-kosan kami pergi ke Bojonegoro (rumah saudara) untuk
istirahat disana dan melewatkan tes TEP (B.Inggris) yang dilaksanakan sehari
setelah daftar ulang. Selesai istirahat di Bojonegoro kami melanjutkan
perjalanan pulang ke Bekasi dengan naik bus.
Daftar ulang telah selesai dan kini saya menunggu
jadwal selanjutnya, yaitu pra pkkmb yang dilaksanakan pada 30-31 Agustus. Kali
ini saya berangkat ke Surabaya bersama kedua orang tua dan 3 adik saya (tetapi satu
adik tidak ikut karena pesantren) dengan harga tiket Rp 300.000 per orang. Setelah
sampai di Stasiun Pasar Turi sekitar pukul 02.00 saya sekeluarga pergi ke kosan
dengan naik taksi, untuk sampai kosan dengan taksi saat itu bayar Rp 120.000
kalau tidak salah. Pagi harinya, saya dan keluarga pergi belanja untuk membeli
parabotan yang akan digunakan selama saya menjadi “Anak Kos”. Hari pertama pra
pkkmb selesai sekitar pukul 12.00, dan setelah itu saya mengantar keluarga yang
akan pergi lagi ke Bekasi dengan naik kereta dari Stasiun Pasar Turi, saya
mengantarnya hanya sampai depan gang saja karena tidak sempat untuk
mengantarkan ke stasiun karena saya masih harus menyesaikan perlengkapan untuk pkkmb
nanti.
2 hari di kosan saya merasa seperti turis, karena
yaa saya tidak mengerti apa yang dibicarakan para teman kos yang sedang
mengobrol, sebab saya kurang bisa bicara menggunakan Bahasa jawa. Masa-masa
pkkmb begitu luar biasa, mengapa demikian? Karena saya cukup puas dengan
kinerja para kakak panitia yang sudah menyiapkan ini itu nya dengan cukup
bagus. Selesai masa pkkmb kini saya harus siap untuk menjadi mahasiswa, di
minggu pertama kuliah tidak banyak dosen yang hadir, selaginya ada yang hadir itu
hanya perkenalan saja. Kini saya sudah mulai terbiasa hidup disini dan mulai
bisa pula berbahasa jawa.
Disemester pertama ini ada 21 sks dengan 10 mata
kuliah dan insya Allah mata kuliah yang ada akan bisa saya hadapi, dan saya berharap saya tidak pernah mengeluh
dengan apa yang ditugaskan oleh para dosen-dosen.
Itulah sedikit KISAH SEKOLAH dari saya, agak sedikit
berlebihan memang. Kurang lebihnya mohon maaf
Wassalamualaikum Wr.Wb

Komentar
Posting Komentar